Home Kabar Kampus Mendapatkan Gelar Doctoral Berkat Penelitian Tentang Pesantren

Mendapatkan Gelar Doctoral Berkat Penelitian Tentang Pesantren

277
0

Salah satu dosen IAIDA atas nama Nihayatul Wafiroh telah merengkuh gelar Doktoralnya dalam sidang terbuka atau promosi Doctor di Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada hari Senin 7 November 2016. Gelar Doktoral tersebut diraih berkat penelitian disertasinya yang berjudul Women’s Agency in Arranged Marriages within the Context of Pesantren. Nihayatul Wafiroh yang telah menjadi pendidik di kampus IAIDA sejak tahun 2009 menulis disertasi tentang pesantren, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya peranan penting Bu Nyai di pesantren. Bu Nyai atau ibunda / istri pengasuh sebuah pesantren memiliki peranan penting dalam hal yang menyangkut perjodohan anak-anaknya. Anggapan, suara, pandangan dan pengalaman perempuan selama ini tidak dianggap penting sehingga perempuan diposisikan sebagai passive agent. Apalagi dalam soal perjodohan. Dari luar tampak perananan Kiai begitu mendominasi. “Namun hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan sebaliknya. Perempuan merupakan agen yang aktif,” ujar perempuan yang juga menjadi anggota DPR RI dari fraksi PKB ini. Namun, hal itu tak pernah muncul di permukaan karena keluarga pesantren masih memegang konsep perfect marriage yang berarti untuk semua urusan yang di luar rumah, laki-laki yang harus menangani. “Karenanya, peran perempuan tak pernah terlihat sebab yang diketahui masyarakat, Kyai yang memegang peran penting,” ujar Nihayatul. Temuan itu menjadi pembantah bahwa perempuan tidak memiliki peran. Perempuan sebenarnya agen yang aktif. Mereka memainkan agensinya dengan berbagai cara. “Bahkan, Nyai juga melakukan advokasi kepada anaknya untuk bisa menentukan pilihannya dan mengungkapkan keinginannya,” papar dosen pengampu mata kuliah filsafat umum ini. Habitus yang telah menjadi semacam doktrik bahwa perjodohan merupakan representasi ketaatan kepada Kyai tidak serta merta diterima perempuan. “Perempuan sebagai agen yang aktif melakukan kritik-kritik terhadap konsensus tersebut. Sekaligus membuktikan perempuan tak sekadar mengikuti habitus yang ada tanpa memainkan keagenannya,” tandas Nihayatul.

Penulis: Zulfi Zumala Dwi Adriyani, S.S.,M.Pd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here