Home Kabar Kampus Peringati Hari Santri Nasional Mahasiswa Penerima Beasiswa Madin Gelar Dialog Publik

Peringati Hari Santri Nasional Mahasiswa Penerima Beasiswa Madin Gelar Dialog Publik

145
0

Blokagung – Minggu, 18/10/2020 Bertempat di Aula kampus 2, Dusun Sumberkembang Timur, Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi mahasiswa penerima beasiswa Madrasah Diniyah (Madin) program studi Manajemen Pendidikan Islam (Prodi MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung Banyuwangi menggelar dialog publik dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dengan tema: “Kebangkitan Politik Kaum Santri”. Narasumber yang dihadirkan adalah KH. Abdul Malik Syafa’at, MH. (Pengasuh Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi) dan H. Mukhlishin, SH. (Penggerak Pemuda dan Kegiatan NU-Pesantren).

Beasiswa Madin adalah beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov.) Jawa Timur bagi guru madrasah diniyah yang lulus administrasi, tes tulis, tes wawancara dan tes baca kitab Salaf yang diuji langsung oleh tim penguji tingkat lokal dan wilayah, yakni Kyai yang menjadi Dosen Universitas Islam Negeri Surabaya, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dsb. IAIDA Blokagung menerima beasiswa Madin dari Pemprov. Jawa Timur kali pertama pada tahun 2017 sebanyak 30 mahasiswa dan kali kedua pada tahun 2019 sebanyak 30 mahasiswa. Penerima beasiswa Madin IAIDA Blokagung adalah guru, Gus dan Kyai Muda pengelola Madin dan pesantren di kabupaten Banyuwangi.

Sebelum acara dimulai, panitia mengingatkan peserta untuk memakai masker dan membagikan masker bagi peserta yang terlupa tidak membawa masker. Hal ini sebagai bagian dari upaya menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid19 yang belum juga usai.

Acara yang dibuka oleh Ketua Prodi MPI, Moh. Harun al-Rosid, M.Pd.I tersebut diikuti oleh Dosen MPI dan FTK, mahasiswa beasiswa Madin angkatan tahun 2017 dan 2019, mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka, PMI dan PMII. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akedemik, Penelitian dan Pengembangan Lembaga, Drs. Eko Budiywono, MH. serta Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Drs. H. Muh. Khozin Kharis, MH.

Saat menyampaikan materi KH. Abdul Malik Syafa’at, MH. menceritakan jawaban dari gurunya saat ditanya tentang apa saja syarat menjadi ulama?. Menurut gurunya syaratnya ada 3, yaitu: 1) ahli ilmu; 2) ahli hikmah; 3) ahli politik. “Jadi, santri jika ingin jadi ulama pada momen Hari Santri Nasional ini mulai membekali diri dengan ilmu (agama) yang kuat agar kokoh secara keilmuan, menguasai ilmu hikmah supaya bisa menerapkan dengan baik keilmuannya pada masyarakat dan negara, serta menjalani ilmu politik dengan tujuan mengukuhkan kegiatan dan gerakan syiar Islam dengan lebih kreatif, termasuk memanfaatkan media sosial, sehingga lebih banyak yang mengambil manfaat dan lslam semakin dikenal luas. Oleh karena itulah sudah saatnya IAIDA Blokagung ini tidak hanya mempromosikan nama prodi dan apa saja kegiatannya, tapi mulai mengenalkan dan mempromosikan pada masyarakat keahlian Sumber Daya Manusia yang dimiliki saat ini, dosennya, mahasiswanya, lulusannya yang keahliannya bisa dibanggakan dan hal ini lebih menarik bagi masyarakat”, pungkasnya.

Mukhlishin, SH. sebagai narasumber kedua menyemangati peserta dialog dengan menceritakan bahwa Gus Dur (KH. Abdur Rahman Wakhid, Presiden RI ke-4) dalam sebuah seminar pernah menyampaikan keinginannya untuk kaum santri agar ada yang menjadi Birokrat, Wartawan, NGO (Non Government Organization), Politisi, Pengusaha, Profesional dan sebagainya. “Tujuannya adalah memberdayakan santri di tingkat nasional bahkan global agar tidak hanya menerima kebijakan tapi juga pelaku pembuat kebijakan, sehingga kebijakan yang dibuat juga bisa benar-benar bermanfaat untuk pemberdayaan kaum santri dan pengembangan pesantren”, harapnya.

Ada 2 pertanyaan dari 2 mahasiswa, Asyrofi, beasiswa Madin 2017, terkait bagaimana menyikapi kondisi paradoks yang terjadi di tengah fenomena Gus Dur diantara yang mengangkat menjadi Presiden adalah Amien Rais, tapi Amien Rais pula yang menjatuhkan Gus Dur. Pertanyaan kedua dari Mabrur, beasiswa Madin 2017, saat menyambut pilkada perlu ada kontrak politik agar jelas kebermanfaatannya, khususnya bagi kaum santri. Satu pertanyaan dari dosen Tadris Bahasa Inggris, Ahmad Faruk, M.Pd. adalah terkait cara menghilangkan imej negatif tentang politik yang kotor karena banyaknya mudharat, tapi ternyata banyak juga sisi kemaslahatan.

Menjawab tersebut, KH. Malik Syafa’at, MH. menyampaikan bahwa sikap yang perlu diambil pada kondisi paradoks tersebut tidak perlu dikhawatirkan, karena jika dikhawatirkan, maka tidak ada kaum santri yang berani bercita-cita menjadi presiden, misalnya. “Gus Dur, menjadi presiden karena Beliau berani punya cita-cita menjadi presiden, selanjutnya tergantung pada keberanian kita menjadikan politik untuk mencapai kepentingan bersama, sedangkan imej politik yang negatif itu harus dirubah, mulai dari memahami bahwa politik itu adalah sebuah alat, sebuah jalan, bukan untuk mencapai kepentingan pribadi atau golongan tetapi untuk mencapai kepentingan bersama, maka disinilah politik juga disebut sebagai pembagian kekuasaan, pembagianya harus jelas dan merata, bisa dipastikan dengan demikian maslahatnya banyak dirasakan, sementara itu kontrak politik memang penting dilakukan, tapi berpikirnya harus makro untuk kepentingan bersama di tingkat pemilihan tersebut, apakah pilkada maupun pilpres, bukan hanya pengembangan TPQ pribadi, misalnya”, jelasnya.

Mukhlisin, SH., menambahkan bahwa mendukung calon melalui jalur politik, berarti siap iuran bersama, hal ini untuk menghindari politik uang, karena bisa dipastikan politik uang itulah yang mengantarkan politisi cenderung menjadi korup. “Kaum santri harus menjadi contoh dalam menjalankan politik bukan pragmatis, tapi berdasarkan gagasan untuk kemaslahatan bersama dan menghapus fenomena politik uang. Maka kenapa Gus Dur menginginkan santri ada yang menjadi Birokrat, Pengusaha, Politisi, Wartawan, NGO, Profesional dan seterusnya itu, harapannya kalau ada santri yang mencalonkan diri menjadi kepala daerah bahkan presiden itu bisa bersinergi”, urainya.

Acara yang dipimpin oleh Agus Dr. H. Muhammad Imam Khaudli, M.Si tersebut berlangsung dengan baik dan ditutup dengan doa oleh Munawir, M.Ag. dengan harapan acara ini memberikan kemanfaatan dan keberkahan bagi peserta dalam rangka ibrah (mengambil pelajaran berharga) atas peringatan Hari Santri Nasional yang merupakan pengingat resolusi jihad yang digaungkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam membangkitkan semangat kaum santri, khususnya dalam mempertahankan NKRI pada tanggal 22 Oktober 1945 yang menjadi penggerak perang 10 Nopember 1945 di Surabaya melawan Inggris dan Belanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here